Pendidikan Karakter Minim Gadget ala Pemancing

"I worry about kids today not having time to build a tree house or ride a bike or go fishing. I worry that life is getting faster and faster"  (John Lasseter)

Petuah diatas adalah pesan bijak tentang tumbuh kembang anak. Perlunya memberi aktivitas anak pada kegiatan di luar rumah, terlebih lagi di era digital. Era dimana anak balita sampai remaja mempunyai keterikatan pada aktivitas daring (online).  Main game dan melihat video via online menjadikan terlalu fokus pada layar smartphone. Saat ini sedang marak fenomena anak kecanduan gadget (digital detox). Dampak kesehatan dapat merusak mata dan dampak sosial menjadikan anak asyik dengan dunianya sendiri/enggan bersosialisasi.

Dulu saat masih kecil hampir segala mainan dan hiburan didapat disekitar, nirbayar.  Ada sawah, sungai dan musim yang dapat dijadikan pilihan menghadirkan keceriaan. Mabar (main bersama)  saat itu tanpa paket data atau menghabiskan waktu memanfaatkan wifi gratis. Mabar anak desa di era 90-an bermain tergantung musim. Ada musim layang-layang, musim berburu ikan di sungai saat kemarau  sampai musim berburu asam yang melatih ketrampilan dan keberanian memanjat pohon besar asam jawa (Tamarindus Indica)  yang tumbuh kokoh di pinggir dusun. Saat itu telah ada video game sebagai mainan paling mewah pada jamannya, namun tak semua anak bisa memilikinya, melihat orang lain memainkannya saja sudah senang bukan kepalang. Melihat orang main game dingdong di sebelah Bioskop Simo (Rukun Mulyo Cineplex) Surabaya sudah menjadi hiburan tersendiri bagi seorang anak desa yang tiap hari hanya melihat sungai dan sawah. 

Roikan dan Roikan Jr @embong kembar Gadang Malang 
Aktivitas di luar rumah saya saat itu bukan tanpa resiko. Mandi di sungai berarus sedang,  mencari sarang burung di rawa,  mencari ikan gabus saat air sungai mulai mengering. Tukang pijat urut menjadi santapan rutin akibat keseleo atau terkilir. Bahkan yang paling 'seru' masa kecil saya pernah dilarikan ke Puskesmas karena seekor ikan keting/lundu menancap di tulang kering. Itulah anak desa masa lalu. Pulang biasanya membawa beberapa ekor ikan untuk lauk.  Yang penting keceriaan saat itu tidak bisa dibayar dengan apapun. Salah satunya memancing menjadi mainan pencari lauk pada musim libur atau musim banjir. 

Sebagai seorang papa muda yang juga mempunyai hobi mancing, perlunya mengenalkan si kecil pada spot mancing liar.  Ini sebagai salah satu solusi mencegah ketergantungan anak pada gadget sekaligus menghadirkan aktivitas luar rumah yang positif. Tidak perlu ke kolam pemancingan yang berbayar,  saluran irigasi yang biasa sebagai spot pemancing wader warga kota Malang kota bisa menjadi pilihan. 

Courtesy of Forrest Gump Film (Paramount Pictures)
Terinspirasi dari salah satu adegan di akhir film Forrest Gump. Kala itu saya berjanji jika kelak punya anak laki-laki akan saya kenalkan mancing sejak dini. Dalam film ini Tom Hank sangat baik memerankan tidak hanya sebagai seorang ayah tapi seorang sahabat karib bagi anaknya.  Itulah esensi dari Sahabat Keluarga  dan keluarga sebagai sahabat.

Memancing tidak sekadar aktivitas menangkap ikan dengan kail semata. Banyak orang awam yang berasumsi bahwa memancing itu aktivitas pemalas, kegiatan sia-sia dan kurang berfaedah. Pendapat seperti itu bagi pemancing adalah keliru.  Justru salah satu terapi kecanduan gadget pada anak adalah akivitas fisik luar rumah. 

Adalah memancing mengajarkan konsentrasi dan kesabaran. Aktivitas luar rumah ini melatih ketahanan fisik dan mental.  Tahan pada panas, angin laut dan hujan.  Menjadikan pribadi teguh pendirian, tidak iri hati ( anda jangan julid kata Syahrini)  saat tetangga sebelah sudah mendapat sambaran ikan duluan.  Menjadi pribadi teguh saat pulang dengan tangan hampa (boncos).
Strike Nak...Jangan Kasih Kendor 
Bermain game di gadget tentu butuh paket data dan daya baterai. Bermain dipinggir kali hanya membutuhkan niat. Tidak ada cheat atau perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli item tambahan.  Memancing bersama si kecil dan keluarga dapat mempererat ikatan batin antar anggota keluarga (familyhood). Beberapa kolam pemancingan di timur Surabaya dan Sidoarjo menyediakan fasilitas pemancingan, sekaligus dapat menikmati masakan hasil tangkapan yang bisa disantap bersama keluarga. Sebagai penyuka memancing di spot liar saya lebih percaya jika memancing dapat menjadi sarana belajar keanekaragaman flora (tanaman sekitar sungai-muara)  dan fauna (aneka ikan sungai, siput,  burung dan serangga).  Terbukti salah satu cara belajar menikmati dan mengenalkan alam semesta beserta si kecil.
Persiapan Sebelum Kat
Dilansir dari Detik.com berdasarkan riset dr Kristiana tentang kecanduan game khusus anak laki-laki karena ada hasrat merasa dihargai, sok jagoan di dunia maya dan merasa bangga memiliki teman banyak didunia maya. Jika ini diteruskan akan berdampak pada masalah sosialisasi anak dengan teman sebayanya terlebih lingkungan sosialnya. Energi dan pikiran yang seharusnya dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk sesuatu yang dapat menciptakan prestasi di kemudian hari, terbuang dengan asyik di depan smartphone. Untuk itu, terbukti saya merekomendasikan memancing sebagai instrumen pendidikan 'sekolah alam' pada anak dan melatih ketrampilan lain pada anak, minimal ketrampilan tali-temali dan meracik umpan. Tali temali bisa berguna jika mereka kelak menekuni Pramuka, PMR, pelaut atau masuk militer. Meracik umpan memberikan kreativitas pada anak untuk melatih anak peka pada apa yang dipunya dan sasarannya seperti apa. Siapa tahu kelak anak kita menjadi menekuni dunia memasak, menjadi ahli herbal atau menjadi pengusaha varian umpan lomba mancing galatama.

Hal terpenting saat ini adalah buat lingkungan sosial senyaman dan sekomunikatif mungkin. Tentu saja sebagai orang tua harus memberi contoh yang baik dengan tidak terlalu larut pada gadget saat menikmati quality time bersama keluarga. #sahabatkeluarga

Bonus Pict: 
Doa Roikan Jr untuk pemancing se penjuru tanah air


Pendidikan Karakter Minim Gadget ala Pemancing Pendidikan Karakter Minim Gadget ala Pemancing Reviewed by roikan soekartun on 10:57 AM Rating: 5

No comments