All About Madura (Part 2)

        Madura adalah salah satu kawasan di Jawa Timur berbentuk kepulauan yang memiliki sisi eksotis dari manusia, alam dan budaya. Sebetulnya saya ingin menulis karya etnografi tentang Madura, namun biar dapat dinikmati semua kalangan saya buat dengan model ngartun. Etnokartunologi juga karya etnografi yang menggambarkan sisi kehidupan dan budaya masyarakat tertentu yang dikemas dalam bentuk kartun. Edisi kali ini merupakan refleksi saya selaku pengajar luar kota dalam provinsi yang telah melintasi Surabaya-Madura selama setahun terakhir. Berbagai sisi menarik telah terekam dalam benak saya sewaktu melintasi jalanan di pulau Madura. All About Madura bagian pertama bercerita tentang 5 hal menarik dari masyarakat Madura mulai dari Busana sampai alat tradisional penghalau burung pengganggu tanaman padi.
Kali ini saya akan mengangkat tema sesuatu yang kerap saya temui di jalanan Madura, mulai Suramadu sampai Pamekasan PP.

Madura merupakan wilayah kepulauan yang terletak di sebelah timur laut Pulau Jawa yang dipisahkan oleh Selat Jawa. Luas total wilayah madura mencapai 5.304 km persegi dengan panjang kurang lebih 190 km dan lebar 40 km. Secara administrasif Madura terbagi menjadi beberapa wilayah yaitu: Bangkalan 1.260 km, Sampang 1.233 km, Pamekasan 792 km dan Sumenep 1.989 km. 

Kali ini saya akan menampilkan beberapa hal yang menurut saya unik dalam versi ngartun tentang berbagai hal yang ada di Pulau Madura.
1. Anak SD pulang sekolah 
Anak-anak yang pulang sekolah
   
Kalau kita melintas di daerah Tanah Merah sampai Blega-Bangkalan pada siang hari sekitar jam 12:00      WIM (Waktu Indonesia Bagian Madura). Kita akan menemui anak-anak SD terutama di daerah pedesaan yang sedang perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah. Kalau di lingkungan kota, anak SD pulang sekolah sudah ada yang jemput baik orang tua maupun mobil penjemput, maka di daerah ini mereka pulang ke rumah berjalan kaki. Pemandangan yang menarik jika kita melihat ada beberapa anak yang membawa tas baik ransel atau jinjing dengan kedodoran. Besar tasnya daripada orangnya. Pernah saat melintas di daerah Patemon saya melihat ada seorang Ibu yang mengantarkan anaknya yang masih SD dengan seragam yang sangat kedodoran, dalam hati saya berpikir:"Mungkin sengaja beli baju yang kebesaran biar seiring tumbuh kembang anak tidak ribet urusan upgrade seragam di saat tahun ajaran baru" hehehe.

2. Remaja Berangkat Mengaji 
Kebudayaan madura yang berlandaskan nuansa keagamaan yang kental khususnya Islam. Masyarakat madura identik dengan masyarakat Muslim yang taat dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur. Pendidikan agama menempati posisi utama dalam tumbuh kembang anak, prioritas pendidikan agama sangat ditekankan agar dapat menjadi orang Madura yang mengerti agama. Pendidikan agama paling mendasar adalah mengaji. 
Sama seperti jaman kecil saya dikampung, sekolah dan ngaji adalah yang utama. Pagi SD, Siang Madrasah Ibtidaiyah dan Malam mengaji di TPQ. Jika diperbandingkan dengan anak kuliah pasti SKS anak kampung masa lalu lebih banyak. Jika kita melewati jalanan menuju Pamekasan tepatnya di daerah Galis maka terdapat fenomena siang siang hari dengan keberangkatan remaja putra atau putri berangkat mengaji. Kitab yang mereka bawa adalah kitab kuning. Yaitu kitab yang berupa lipatan kertas kuning dengan sampul tebal tanpa dijilid. Kitab ini berisi Full huruf arab mulai yang gondrong sampai yang gundul alias tanpa sandangan. Tugas dari orang yang mengaji adalah mendengarkan kyai atau tentor yang sedang membaca kalimat demi kalimat isi kitab tadi dengan seksama dan harus menuliskan arti kata dengan huruf arab pula atau dikenal dengan arab pego. Pernah pengalaman saat masih di pondok pesantren Kyai Azis masa SMP ketika mengaji kitab kuning saya mengartikan dengan hurup latin hehehe langsung kakak-kakak senior di pondok marah sambil melotot. 
Berangkat Mengaji 
Di Madura ada perbedaan dalam cara membawa kitab kuning antara remaja putra dengan remaja putri. Jika remaja putra membawa dengan dipeluk mesra karena barang yang dimuliakan harus diberlakukan dengan sangat baik pula.
Belajar Mengaji Juga 

Berbeda dengan remaja mengaji dari kalangan cowok. Kerap saya melihat mereka terkadang membawa kitab kuning dengan apa adanya, tanpa perlakuan khusus. Tidak ada pelukan, sekadar di bawa dan tidak sedikit yang dibawa dengan cara digulung seperti arsitek yang membawa gambar hasil rancangan. Pernah saya menemui seorang remaja cowok yang pergi mengaji dengan membawa buku panduan sholat dengan kondisi yang sangat kusut. Mungkin ada pelajara praktek sholat atau bisa jadi buku tersebut terlalu sering di baca sehingga sampai kusut. Ingat  hukum orang rajin: semakin hancur sebuah buku maka itu menandakan buku tersebut terlalu banyak sering dipelajari atau terlalu sering dibuat bantal hehehehe.


3. Penarik Sumbangan Sukarela on the Street 
    Fenomena menarik sekaligus membuat gemas pengendara yang melintas adalah penarik sumbangan atau amal yang banyak kita temui di berbagai belahan wilayah Madura. Lampu merah buatan agar pengendara tidak selalu ngebut dan ingat akhirat. Karena dengan amal pahalanya akan selalu mengalir.
Amal-amal
Selepas hutan Gigir terdapat jalanan naik turun, setelah itu kita akan melihat tulisan di sebuah papan yang ditambatkan di pohon: PELAN-PELAN AMAL AMAL bahkan di daerah Jrengik Sampang ada yang berisi pesan lebih sangar: HARAP PELAN AMAL...JANGAN LEWAT JALUR KANAN BERBHAYA !. 
Entah sejak kapan dan siapa yang memulai kegiatan penghimpunan dana sukarela ini, sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Madura fenomena ini sudah ada, bahkan menyebar di Surabaya dengan menggunakan mobil yang ada petugas yang bagian menjemput dana. Mobil dilengkapi dengan pengeras suara dengan laju yang pelan biar penjemput dana tidak ketinggalan. 
Di Madura kegiatan ini dibagi jadi beberapa petugas, ada yang bagian garda depan berada di paling ujung untuk mengingatkan pengendara yang lewat, harap pelan-pelan ada amal. Bagian yang kedua adalah penghimpun dengan membawa peralatan seperti orang yang memancing ikan bahkan peralatan untuk mandi alias gayung. Satu ruas jalan terdiri dari 2 orang jadi dalam satu tim pengumpul sumbangan yang turun jalan bisa mencapai 4-6 orang. Petugas yang paling aman walau harus berbusa-busa,  jika panas terik maupun gerimis  bagian pengisi suara yang tiada henti mengingatkan pentingnya hati-hati ada amal dan berterima kasih jika ada pengendara yang melempar duit atau receh di dalan. Jika menjelang bulan puasa dan pada bulan puasa sampai puasa akhir fenomena pencari dana sukarela ini jumlahnya bisa tiga kali lipat. Jangan dikira pekerjaan ini hanya ditekuni kaum lelaki saja, di timur Pantai Camplong ada masjid yang sedang di bangun dan sebagian petugas penghimpun dana sukarela serta pengisi suaranya adalah Ibu-ibu. 
Saya biasa melempar duit kalau kebetulan ada recehan pada tim penggumpul amal jariyah yang terlihat di dekatnya Masjid yang sedang di bangun saja, maaf kalau agak berburuk sangka kuatir kalau nanti dananya disalahgunakan bahkan diambil sendiri. Kesimpulannya adalah di Madura perlu dibuat lembaga yang khusus menangani transparasi dan audit amal jariyah atau KTAAJ (Komisi Transparasi Audit Amal Jariyah). 

4. Perantau atau Si Hitam yang Berjalan dan Terus Berjalan. 
    Jika kita jeli melintasi jalanan Madura baik siang maupun malam hari, ada fenomena yang menarik untuk ditelusuri yaitu lelaki atau sekelompok lelaki yang berjalan dengan menggunakan baju hitam-hitam. Awalnya saya menyangka orang yang berbaju serba hitam ini adalah orang yang kehabisan ongkos atau petani yang pulang berladang. Tapi jika kita lihat dengan lebih seksama di pinggang ada tas ransel, tangan membawa tongkat baik yang berupa kayu biasa sampai saya pernah menemui tongkat kayu dengan ukiran ular yang bagus. Maka dipastikan mereka bukannya orang nyasar, pasti ada hal-hal yang bersifat mistis di balik itu. 

Sang Pengelana
Setelah mengadakan wawancara dengan beberapa orang asli Madura. Penampakan hitam yang kebanyakan jalan di malam hari ini dapat dikategorikan ke dalam dua versi: pertama, orang perguruan ilmu kanuragan atau ilmu-ilmu yang lain yang sedang melangsungkan syarat tertentu agar kesempurnaan ilmu yang dipelajari dapat diraih. Istilah anak kuliahan biar nilai ujian paling akhir bisa sangat memuaskan alias Suma Cumlaude. 
kedua, Orang yang sengaja melaksanakn suatu nazar atau janji suci dan keramat dengan Sang Pencipta. Beruntung saya dulu berjanji jika kartun di muat Jawa Pos akan berhenti merokok selamanya (Janji yang menyehatkan), coba kalau waktu itu janji untuk berjalan jauh mungkin bisa jadi berjalan sambil merokok kali, kalau urusan jalan-jalan cukup setahun sekali dalam acara Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto-Suroboyo. 
Meskipun berbeda versi dan persepsi, Sang Perantau apapun model dan tujuannya tetap mempunyai persamaan dalam hal waktu yang biasanya berjalan di malam hari. Alasannya jelas untuk menghindari panas matahari di Madura yang relatif terik dan Persamaan selanjutnya adalah tidak sedikit mereka yang benar-benar backpacker sejati. Tidak membawa uang sama sekali, tidur di masjid atau singgah sejenak di rumah penduduk dan Makan sampai merokok jika ada yang memberi.   
Madura adalah Pulau yang eksotis dengan kekhasan budaya dan tentu saja makanannya. Salam Ngatun Taretan Dibi' Semua (Bersambung

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "All About Madura (Part 2)"

Post a Comment