Penanggungan Puncak Pawitra: Gunung Cilik Mekithik Rasa Piknik

Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di pulau Jawa yang memiliki beragam pesona alam, termasuk gunung. Tercatat ada beragam gunung yang menjadi tujuan pendakian banyak kalangan yang membentang dari barat menuju ujung timur. Ada Gunung Lawu, Gunung Wilis, Gunung Welirang-Arjuna, Gunung Semeru, Gunung Argopuro, Gunung Raung, Gunung Lamongan, dan Gunung Penanggungan. Tulisan ini membahas tentang Gunung Penanggungan. Gunung penanggungan oleh para pendaki di sebut sebagai miniatur dari mahameru, pandangan seperti itu juga diberikan kepada Gunung Lamongan. Penanggungan itu serba tanggung, disebut gunung ya terlalu rendah, disebut bukit ya ada cekungan kawah yang tertidur. 
Penanggungan Puncak Pawitra dilihat dari Prigen  

Dikisahkan saat melakukan relokasi, dewa juga membutuhkan lokasi baru untuk produktivitas kali ya. Puncak Himalaya akan dibuat cabang di tanah Jawa Dwipa bagian timur. Maka Batara Guru saat itu memindahkan sepotong puncak himalaya, terbang melintas di tanah Jawa. Karena dibawa dengan tangan kosong, beberapa bagian puncak akhirnya jatuh ke bawah. Maka terbentuklah deretan pegunungan yang melintasi Pulau Jawa bagian selatan. Ada satu bagian yang terjatuh sendiri di daerah Trawas dan itulah cikal bakal dari Gunung Penanggungan. 

Akses menuju penanggungan dapat dilakukan dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Khusus untuk angkutan umum, selepas dari terminal Pandaan kita dapat naik angkutan desa menuju Desa Tamiajeng-Trawas. Saya sendiri sudah lebih dari 20kali naik puncak Penanggungan, dan puncak pendakian terjadi semasa SMA (awal 2000-an). Saat itu, jika malam minggu kita di terminal Pandaan berdatangan anak muda yang memanggul tas besar dan naik angkutan desa menuju Tamiajeng. Salah satu tempat yang menjadi favorit pendaki untuk perbekalan adalah Warung Mak Ti yang terletak di depan Balai Desa Tamiajeng. Saya masih ingat, masa itu selepas malam dari Desa Tamiajeng kita dapat melihat deretan cahaya dari lampu senter di sekitar punggung gunung. Jika kita membawa motor, dapat menitipkan di Warung Mak Ti, kalau terlanjur kemalaman dapat dititipkan pada penduduk sekitar. Penduduk sangat respek dengan para pendaki. 

Gunung Welirang-Arjuno dilihat dari Puncak Penanggungan

Gunung penanggungan di kenal sebagai gunung cilik mekithik (kecil-kecil cabe rawit-red). Gunung ini mempunyai dua jalur pendakian, dari Tamiajeng-Trawas dan Sumbersuko. Jalur yang umum adalah Tamiajeng, walaupun pendakian ke gunung ini tidak seramai pada awal tahun 2000-an. Dibutuhkan stamina yang lebih mendaki gunung ini, karena medan yang dilalui berupa jalur setapak dengan kemiringan yang seakan mematahkan lutut. Belum lagi, tidak ada sumber air sepanjang pendakian. Jadi kita harus membawa sedikitnya lima liter air perorang. Itulah sisi petualangan dari gunung ini. 
Jalan ini pada era 90-an masih hutan
(Foto tahun 2007)


Untuk sampai ke puncak, dapat dilalui hanya dalam waktu semalaman, non stop dan berhenti sejenak di puncak bayangan. Berangkat pukul 22:00 WIB dan pukul 01:00 WIB mencapai base camp. Untuk dapat menyaksikan matahari terbit, kita harus muncak pukul 02:30 WIB. Jalur yang dilalui selepas puncak bayangan adalah lajur bekas aliran lava yang telah mengering. Jika tidak membawa tenda bisa beristirahat di goa botol yang hanya sanggup menampung kurang lebih 6 orang, itupun tidur gaya ikan pindang. Dulu ada stasiun pemancar di puncak gunung ini. Gunung Penanggungan direkomendasikan untuk pendakian sekaligus membakar kalori secara kilat. Jalur yang penuh tanjakan dan tidak ada sumber air menjadi pematik jiwa petualangan kita.  

Puncak Pawitra 2010 (Jaman masih belum Buncit) 
Gunung ini sempat sepi pendaki pada tahun awal 2000-an dan ramai kembali setelah 2012 seiring peningkatan animo masyarakat khususnya anak muda untuk menekuni atau sekedar tahu bagaimana rasanya mendaki gunung. 

Tips Asyik Naik Gunung Penanggungan: 
1. Pastikan siap secara fisik dan mental. Sumber air dan sungai untuk mengisi logistik tidak akan ditemukan mulai dari jalur makadam sampai puncak sehingga perlu perbekalan yang cukup dan sesuai dengan alokasi waktu. Mental harus kuat karena pada awal perjalanan kita disuguhi jalanan landai, namun setelah itu sejauh kaku melangkah akan penuh tanjakan. 
2.Berangkat malam sampai puncak pagi. Jika anda ingin adu stamina bisa mencoba berjalan pada siang hari yang panas dan sesekali gunung ini penuh kabut. Jika anda sampai puncak agak kesiangan, momen matahari terbit akan sirna seiring datangnya kabut. 
3. Perjalanan pada bulan Juni sampai dengan September direkomendasikan karena musim kemarau cocok untuk mereka yang tidak betah dengan jalan yang becek. Perjalanan pada musim hujan atau puncak musim hujan kurang direkomendasikan karena rawan longsor, badai dan licin. 
4. Jika basecamp atau puncak bayangan terlalu ramai tidak ada salahnya mencoba menginap di goa botol. Beberapa meter menjelang puncak pada sisi kiri jalur pendakian terdapat sebuah batu besar yang di sekitarnya terdapat goa yang bisa dibuat untuk bermalam. Asal tidak terlalu membawa orang banyak dan tidak corat-coret dinding goa. 

Dekat Gua Botol 

5. Naik gunung bertujuan utama untuk olahraga dan menikmati ciptaan-Nya. Bukan numpang tidur atau buang sampah. Usahakan selalu membawa banyak tas plastik untuk sesekali memungut sampah plastik yang ada sekitar jalur atau basecamp tanpa melupakan membawa sampah kita sendiri. 

Selamat naik gunung, salam Lestari. 




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penanggungan Puncak Pawitra: Gunung Cilik Mekithik Rasa Piknik "

Post a Comment