Menggagas Zonasi Literasi Keluarga

Buku, Tole dan Toli 
Perkembangan teknologi informasi pada era digital berpengaruh pada konsumsi media dalam keluarga. Arus informasi semakin mudah dan cepat didapatkan serta disebarluaskan menggunakan teknologi digital tanpa batas jarak dan waktu. Interkoneksitas yang ada di seluruh dunia yang menghubungkan individu-individu dalam jaringan globa berbasis daring. Era digital menjadikan keluarga mengalami apa yang disebut dengan realitas maya (virtual reality). Istilah yang sedang marak adalah menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Kehadiran internet menjadikan semua aktivitas terasa mudah dikerjakan. Dibalik segala kemudahan ada dampak negatif yang dapat membahayakan dan relatif sulit dikendalikan. Ancaman pornografi, konten kekerasan, perilaku individual dan kecenderungan anak mulai menjauhi buku.

Peran tambahan orang tua di era digital dalam mendidik anak adalah mutlak harus melek teknologi. Pola asuh yang diterapkan pada generasi milenial harus disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan informasi. Orang tua perlu memahami internet beserta seluk beluknya dan mengajarkan penggunaannya kepada anak secara bijak. Orang tua era digital juga harus mampu memilah dan memilih yang baik dan menerapkan apa yang diserap dari media.

Buku Semakin Ditinggalkan
Bagaimana fakta konsumsi media oleh generasi muda kita? Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pada tahun 2016 merilis data pengguna internet di Indonesia sekitar 80-100 juta. Berdasarkan usia pengguna internet yang berumur 15-40 tahun mencapai 68 persen. Sementara di bawah 15 tahun sebanyak 10 persen dan sisanya pengguna umur 40 tahun ke atas. Data terbaru yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pengguna internet terbanyak ada pada usia 15 hingga 19 tahun. Sementara itu, pengguna terbanyak kedua berada pada umur 20 hingga 24 tahun. Anak-anak berumur 5 hingga 9 tahun pun juga menggunakan internet, bahkan mencapai 25,2 persen.

Pada tahun 2015 Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan survei tentang perbandingan konsumsi media dengan kegiatan membaca dalam keluarga, 91,47% anak usia sekolah lebih gemar menonton televisi dan 13,11% suka membaca. Data ini kemungkinan berubah sebab televisi hari ini terkalahkan oleh fasilitas gawai dalam bermain game daring, bermedia sosial dan menyaksikan Youtube. Penulis pernah melakukan tanya jawab secara random pada beberapa siswa-siswi SMP dan SMA di Surabaya terkait cita-cita. Tidak sedikit siswa yang bercita-cita ingin menjadi desainer, programmer/web developer, pembuat game daring dan Youtuber. Adanya internet memberi banyak inspirasi yang menggeser orientasi cita-cita konvensional seperti menjadi dokter, insinyur dan pilot menjadi youtuber/vlogger dan pekerjaan berbasis daring lainnya.

Kemajuan teknologi khususnya internet seharusnya diarahkan tidak sekadar hiburan tapi untuk kepentingan edukasi dan media pendukung tumbuh kembang anak. Melalui pembelajaran dalam rumah berbasis teknologi informasi yang relevan dan berkelanjutan. Literasi media digital dapat menjadi media pendukung pembelajaran, teman bermain dan belajar yang efektif pada era digital dalam keluarga milenial. Agar optimal diperlukan pendampingan dari orang tua senantiasa diperlukan sehingga paparan media dan perangkat daring maupun luring dapat memberikan manfaat positif.

Pengoptimalan Ruang Keluarga
Keluarga adalah pioner dalam pendidikan anak. Perannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi pembentukan pribadi dan karakter anak. Pada era digital orang tua melakukan pendampingan dan menyelaraskan penggunaan internet dan buku. Perlunya konsensus dalam rumah adanya area yang khusus untuk membangun kedekatan antar anggota keluarga. Ada beberapa langkah nyata mewujudkan positive parent-child relationships. Rutinitas makan malam dan kumpul bersama dalam ruang keluarga perlu digalakan demi membangun kehangatan dalam keluarga. Kedekatan diantara anggota keluarga menjadikan iklim belajar dalam rumah kondusif.

Merujuk pada Chip Donohue dalam buku berjudul Family Engagement in the Digital Age (2017) bahwa keluarga sebagai bagian dari pembelajar sejati (families as lifelong educators) yang berpengaruh pada pola asuh dan masa depan anggota keluarga khususnya anak. Seyogianya iklim belajar yang nyaman dimulai dari dalam rumah. Bila perlu diberlakukan zona literasi, area khusus untuk membaca, menulis dan fokus belajar termasuk mengerjakan tugas sekolah. 


Kawasan Bebas Gawai


Orang tua juga bisa memanfaatkan zona ini untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Area ini dapat menjadi semacam family coworking space atau ruang kerja bersama berbasis keluarga. Semua berpadu dalam satu ruangan yang dapat saling berdiskusi sembari berkarya. Semua dapat mengerjakan aktifitas literasi masing-masing tanpa melupakan pengawasan dari orang tua. Perlu komitmen bersama untuk tidak menggunakan ruang kerja bersama untuk game dan bermedia sosial, tapi diupayakan untuk kegiatan literatif yang produktif. 

Zonasi yang diberlakukan dalam rumah merupakan upaya penanaman disiplin dan kebersamaan yang produktif sejak dini. Salah satu cara mewujudkan rumah yang menyenangkan merujuk pada tata ruang dalam rumah sebagaimana gagasan oleh Bruce Feiler dalam buku berjudul The Secrets of Happy Families (2013) terdiri dari ruang individu, ruang berbagi dan ruang publik. Sarana literasi secara umum dapat ditempatkan pada ruang bersama (shared and public space). Pembiasaan membaca dalam rumah menjadi salah satu implementasi dari Budaya Literasi Keluarga (BuLiKe). 

Zonasi literasi dalam rumah merupakan upaya menciptakan produktivitas dalam keluarga yang dapat dipadukan dengan pemberlakuan jam belajar keluarga. Orang tua mengakomodir keinginan anak dengan memberi kebebasan yang bertanggungjawab. Alihfungsi ruang keluarga terjadi ketika penggunaan internet semakin masif dalam rumah. Kebersamaan dalam rumah tercerabut sejak masing-masing anggota keluarga sibuk dengan perangkat gawainya. Hal ini dapat diperbaiki. Ruang keluarga dan pola makan perlu direvitalisasi dengan pengoptimalan dan pendayagunaan secara afektif dan literatif. Harapannya minat baca terbangun dan kehangatan dalam rumah semakin terjalin.

Tulisan telah ini tayang di ngopibareng.id pada 28 Juni 2019

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menggagas Zonasi Literasi Keluarga"

Post a Comment