Pantai Ekas: Lombok Rasa Texas (Blakraan ke Lombok Bagian 1)

Menyusuri lombok timur menuju ujung selatan pulau. Buta medan dan mengandalkan google map. Sopir bingung kami agak panik karena jalanan sepi aspal berlubang tak beraturan. "Kita kemana lagi ini Mas? coba cek google map" kata Pak Andik. Sopir yang mengantarkan kami di saat perdana saya datang ke Lombok. Begitu melihat peta tertera posisi di ujung pulau dan untuk putar balik pun nanggung. Sekalian melintas melewati jalanan dengan aspal berlubang menuju ke selatan. Kengerian di perjalanan terbayar dengan hamparan pantai Ekas yang indah. 

Pasir Putih 
Tertanggal 2 Oktober 2019 menjadi momen perdana datang ke Lombok. Riset tentang masyarakat pesisir di kawasan Lombok Timur. Setelah mengurus surat menyurat di Bakesbang Kabupaten Lotim sambil menikmati jambu monyet yang terhampar gratisan di lahan parkir depan kantor. Perjalanan berlanjut untuk orientasi medan. Mengelilingi daerah yang belum pernah kita jelajahi itu asyik. Saat istirahat makan siang di rumah makan lumayan bagus depan RSUD Lotim kami mencari referensi penginapan yang murah meriah. Dari mesin pencari terpampang sebuah homestay seharga seratus ribuan di daerah Ekas. Cek di peta digital ternyata (kelihatannya) tidak jauh. 

Bale Bengong
Berbekal instruksi dari Mbak-Mbak google, mobil kami meluncur menuju ke selatan. Dari pertigaan Jerowaru kami terus melaju melintasi Desa Pamongkong yang terdapat hamparan tembakau di kanan kirinya. Musim kemarau adalah berkah bagi petai tembakau di daerah ini. Ada dua jenis tembakau yang dikembangkan di daerah ini yaitu tembakau rakyat dan tembakau virginia. Rata-rata dijual untuk kepentingan industri rokok menengah maupun besar. 


Odol Lintas Laut

Melintas ke selatan dari Pemongkong kami dihadapkan pada jalanan yang dalam masa perbaikan. Setelah melewati satu dua jalanan naik turun terhampar jalanan dengan aspal tak beraturan. Aspal penuh lubang secara random, mobil dibuat berjalan terseok-seok. Untuk sopir mengendarai dengan cekatan, bisa melintasi antar lubang dengan manuver yang gesit. Kanan kiri jalan kami melihat bukit imut khas laut selatan yang kering karena kebetulan sedang puncak musim kemarau. Akhirnya kami tiba jalanan aspal yang lebih layak dan memasuki daerah Ekas. 

Batas Maksimal 

Secara administratif, Desa Ekas Buana terdapat di Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Desa Ekas Buana terdiri dari 3 dusun yakni Dusun Ekas, Dusun Kwang Adil, dan Dusun Sungkun. Dengan Kwang Adil sebagai pusat desa, masyarakat menempuh sejauh 9,00 km menuju kantor kecamatan dan 29 km menuju kantor kabupaten


Sore yang cihuy

Masyarakat Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru adalah masyarakat pesisir yang dikenal karena hasil lautnya yang melimpah. Kegiatan perikanan yang berkembang di Desa Ekas Buana diantaranya adalah budidaya rumput laut, budidaya bawal bintang, serta penangkapan hasil-hasil perikanan. Penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan perahu dengan peralatan sederhana menuju tengah laut, ada pula pengembangan dalam keramba dan penangkapan hasil laut dengan cara madak. 

Para Pemadak
Madak adalah cara penangkapan dengan tangan di tepi pantai saat air surut. Apapun yang terlihat akan di bawah pulang. Ikan kecil,  kerang, rumput laut liar sampai bibit lobster jika beruntung. Madak banyak dilakukan oleh kaum hawa. Berjalan menyusuri pantai yang sambil mengamati makhluk laut yang terjebak tidak bisa ke tengah saat air surut. 

Dari Jendela Rumah Kerambah

Pantai Ekas dapat menjadi salah satu pilihan wisata jika kita datang ke pulau Lombok. Yang disayangkan dengan pantai seindah ini kurang seberapa diperhatikan. Akses jalan yang rusak. Terbengkalainya beberapa bangunan yang dulu sempat digunakan rumah kerambah atau rumah tinggal para pembudidaya kerapu. Fasilitas air bersih dan MCK di sekitar pantai Ekas yang minimalis. Akomodasi hanya tersedia dua homestay (lebih tepatnya bisa dibilang mirip kamar kos)  dengan letak yang saling berjauhan. Satu di luar kampung di bawah bukit sebelah selatan desa, satu lagi tidak jauh dari pantai dan terletak di tengah pemukiman warga. 
"Piye jadi nginap di sini nggak Mas?" kata Pak Sopir. Setelah melihat sebuah penginapan yang gambarnya serupa dengan gambar hasil mesin pencari. "Kami ragu Pak" kata saya. "Kalau malam hari kedatangan Ninja Tenchu atau dicekik orang tengah malam siapa yang tahu" guman saya dalam hati. 
 "Ya sudah kita nginap di kota Mataram saja, di sini dikenal area rawan". Kami pun mengiyakan dan sore itu kami secepatnya menuju Mataram untuk beristirahat. 




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pantai Ekas: Lombok Rasa Texas (Blakraan ke Lombok Bagian 1)"

Post a Comment