Tani yang Bersemi atau akan mati: Refleksi Lomba Kartun Petani Indonesia


Karya Saya 

Gema ripah loh jinawi tata tentrem kerto raharjo. Sebuah semboyan yang terdengar jamak ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar (SD).  Tiap hari melihat televisi berisi berita tentang pertanian, radio menyiarkan siaran pertanian. Masa itu pertanian berapa pada titik puncak. Peradaban tani digagas oleh rezim yang mengedepankan pertanian, industri dan investasi. Walaupun lambat laun seiring perkembangan waktu involusi pertanian ala Geertz terjadi dengan modernisasi pertanian dengan segala sistemnya. 

Perubahan Jaman


Terinspirasi dari perubahan pola perilaku dan pola kehidupan masyarakat petani saya membuat karya berjudul perubahan jaman. Seorang anak yang seperti logo buku Kompas sedang bermain suling dengan santuy di atas punggung kerbau. Hewan yang telah menjadi sahabat petani, walaupun semakin ditinggal sejak datangnya penggunaan traktor untuk mengolah tanah pra tanam dan pasca panen. Kerbau sangat merepresentasikan pertanian, bahkan menjadi ikon dari petrokimia. Pabrik pupuk yang saya tahu dari karungnya. Petrokimia Gresik, si kerbau kuning sebagai Solusi Agroindustri. Kerbau telah berganti traktor, anak para petani sudah kehilangan jati diri. Tidak lagi dekat dengan kearifan lokal tentang alam tapi beralih menjadi manusia gawai. Isu itu yang saya angkat jadi karya untuk dikirim ke Lomba Kartun Petrokayaku. 

Sebuah teori transisi agraria klasik. Kerja pada petani pada era dulu adalah gerak badan komunal. Hari ini dilihat dari proses kepemilikan dan orientasi hasil. Privatisasi kepemilikan yang menjauhkan petani pada pilihan hidup mereka. Petani hari ini ditentukan oleh kompetisi dan keuntungan, kaum petani kecil yang digusur dari sektor pertanian dengan gampang bisa beralih profesi dan masuk sektor industri serta informal lainnya. Matinya regenerasi pertanian membawa prahara tersendiri bagi sektor pertanian yang berujung pada ancaman ketahanan pangan. 

and the winner is....

Eksploitasi, Harga Diri dan Bom Waktu atas Involusi Pertanian 
Saya mengirim dua karya. Kartun perubahan jaman dan kartun tentang marketing desa wisata. Keduanya tidak lolos. Tapi tidak apa-apa namanya juga lomba ada pemenang dan ada yang belum menang. Yang penting berkarya. Dalam lomba kartun ini diambil tiga pemenang utama dan lima juara favorit. Selamat untuk para pemenang. Juara pertama diraih oleh I Gusti Made Dwi Guna dari Denpasar. Gambar ini bercerita tentang bagaimana pariwisata telah merambah sampai pedesaan. Otomatis terjadi dinamika termasuk keberadaan wisata. Dulu wisata alam sekarang ada desa wisata. Gambar yang sangat merepresentasikan bagaimana desa menjadi sasaran eksploitasi pada industri. Atas nama ekowisata, atraksi alam dan keramatamahan penduduk desa. 

Meskipun begitu, petani masih berdaya dan masih mempunyai harga diri atas tanah dan penghidupannya. Terlihat pada gambar  dari Juara 2 yang diraih Wiwik Wibowo dari Demak. yang menggambarkan bagaimana respek pada petani. Terlihat sebuah keluarga petani sedang melintas dan ada orang-orangan sawah dengan beragam karakter memberi hormat. Harga diri petani adalah tanah dan akses pada penghidupan dari alam. Konsep agraria berasal dari pengolahan tanah. Apalah jadinya jika petani haruis kehilangan tanah. 

Lambat laun semua akan terjadi sebagaimana gambaran dari Juara 3 yang diraih Martin Widiarsono dari Sleman. Sebuah jam pasir yang menggambarkan masa depan petani. Petani harus siap menghadapi perubahan jaman. Jika tidak melakukan inovasi dan adaptasi akan tergerus oleh waktu. Perlunya inovasi berbasis digital dan pertanian modern pada berbagai lini. Lintas sektoral dari hulu dan hilir. Ketergantungan pada alam yang telah berkurang daya dukungnya patut disikapi dengan beragam inovasi pertanian. Juara satu sampai tiga menjadi representasi bagaimana nasib pertanian dan sikap petani menghadapi masa depan. Salut untuk para juri yang telah berproses secara jeli. 

kartunis favorit 

Lima juara favorit berasal dari para kartunis senior. Ada  Sukriyadi Sukartoen dari Semarang. Tommy Thomdean dari Tangerang. Sutikno dari Kediri. Djoko Susilo dari Kendal dan Jitet Koestana dari Semarang. Inilah momen perdana sepengetahuan saya yang melihat Master Jitet menjadi juara favorit di kontes kartun. Biasanya selalu sabet habis juara bahkan kerap menjadi juri untuk memilih para juara pada kontes kartun internasional. Selamat untuk para pemenang. Semoga kontes semacam ini makin sering diadakan. Menang kalah urusan belakangan yang penting berkarya. []


Bonus Track: 

pemenang lomba video 

 




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tani yang Bersemi atau akan mati: Refleksi Lomba Kartun Petani Indonesia "

Post a Comment