Gerakan Literasi Satu Rumah Satu Rak Buku: Refleksi Hari Buku Sedunia 2019

Tanggal 23 April diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Hari besar para kutu buku di berbagai penjuru dunia melintas batas ruang dan negara. Apa pentingnya sebuah buku sampai ada peringatan Hari Buku Sedunia?. Terbukti membaca menjadi kebiasaan yang positif dan 'menyehatkan'. Menjadi pribadi yang berwawasan luas, bijaksana dalam berpikir dan literatif adalah harapan kaum milenial. Rumah yang keren tidak hanya berisi benda-benda bercita rasa seni tinggi, lebih lengkap jika ada cita rasa instuisi bernilai tinggi yaitu buku. Itulah perlunya kita menggalakan gerakan satu rumah satu rak buku. Jika sudah dirasa koleksi melimpah dan ada ancaman debu atau potensi serangan rayap bisa diganti satu rumah satu lemari kaca berisi buku yang telah ditaburi merica bubuk. 
Dua Hasil dan Menanti yang lain 
Sebelum melanjutkan membicarakan tentang gagasan literasi ini, Saya sedikit cerita tentang dunia perbukuan hari ini. Membaca buku sudah menjadi kebiasaan yang langka untuk era internet seperti sekarang ini. Melihat orang membaca buku di keramaian saja makin langka, apalagi aktivitas menulis buku. Merangkai kata demi kata dipadu dengan data serta daya imaji sampai menjadi sebuah buku perlu perjuangan dan komitmen kuat. Saya telah menulis dua buku dan berbagai karya ilmiah lain semacam jurnal sampai modul. Itu tidak mudah. Apalagi sebuah buku, jangan terlalu berharap menjadi best seller di toko buku setempat. Perlu ketabahan tingkat dewa setelah buku tercetak. Hari ini tingkat membaca dan diperparah konsumsi buku dalam kondisi memprihatikan. Kita bisa mengamati bagaimana kondisi kunjungan di perpustakaan umum? berapa pengunjung warkop yang memegang dan membaca buku?. Coba pula bandingkan seberapa ramai toko buku dengan tempat makan (food court) di sebuah pusat perbelanjaan di kota anda. Cerita toko buku yang tumbang, persewaan komik/novel yang hengkang dan tabloid cetak yang berpamitan menjadi berita yang menyedihkan untuk para penggemar buku. 

Diobralpun kalah sama Pernak Pernik Gadget  (Model diperankan Tole)
Dimulai darimana untuk mengembangkan budaya literasi dalam rumah? tak perlu membayangkan terlalu jauh rumah dengan rak buku dengan koleksi penuh ala perpustakaan. Budaya literasi keluarga (BuLiKe) Cukup diawali dengan sesuatu yang kecil, kebiasaan singkat membaca buku tapi rutin. Entah bangun tidur atau sebelum tidur cukup 30 menit. Bukankah sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil. Rutinitas seperti itu telah Saya lakukan setiap hari. Setiap bangun tidur setidaknya menyisahkan 30 menit untuk membaca buku (kadang satu chapter dalam kindle ebook reader). Melalui pendekatan partisipatoris seperti itulah anggota keluarga yang lain diharapkan bisa mengikuti kebiasaan membaca kita. Ketika penggunaan gadget sudah tidak terbendung ada beragam cara untuk menjadikan kebiasaan membaca menjadi menyenangkan. Misalnya: 
  • Taruh beberapa bacaan menarik pada tempat yang biasa digunakan untuk bersantai di dalam rumah. Misalnya teras, dekat televisi atau ruang keluarga. 
  • Buat komitmen untuk membaca buku sembari menunggu saat mengisi ulang daya Handphone atau gadget anda. "Bukankah ngecharge HP sambil dimatikan atau dimodel pesawat lebih sehat bagi umur HP? Mengapa tidak membaca dulu sembari mengunggu penuh". Kata-kata seperti itu bisa disampaikan dengan catatan kita melakukannya terlebih dahulu secara konsisten. 
  • Reward and Punishment dalam bentuk imbalan dan hukuman bisa diterakan pada pengembangan budaya membaca dalam rumah. Jangan segan memberi penghargaan atau hadiah ketika salah satu anggota keluarga menyelesaikan satu buku, atau minimal memberi pujian ketika telah menyelesaikan satu bab. Hadiah utama yang paling cocok tentu saja sebuah buku. "Jika nanti buku ini habis dibaca, berhak mendapat satu buku sesuai keinginan" kalimat seperti itu bisa kita sampaikan. Jika ternyata kebiasaan membaca buku semakin berkurang, perlu tindakan tegas demi kelangsungan kehidupan literatif dalam rumah seperti memberlakukan jam belajar keluarga, jam membaca keluarga dan pembatasan penggunaan gadget atau WIFI dalam rumah. 
  • Momen berkumpul bersama keluarga entah bersantai di ruang keluarga atau makan malam bersama dapat menjadi acara diskusi santai nan ceria bersama anggota keluarga. Diskusi isi buku yang sedang dibaca apa sisi menariknya bisa menjadi ajang tukar berpikir dalam rumah. Hal ini memicu anggota keluarga yang tidak mau kalah untuk membaca buku lebih. 

Membaca Sejak Dini (Model diperankan Tole)
Sedikit cerita saat masih remaja di desa, tiap libur sekolah Saya main ke sawah sambil menyelipkan satu buku atau Majalah Intisari dalam baju. Membaca di atas pohon menjadi alternatif arena membaca yang sejuk. Kini jaman telah berganti. Apapun berubah menjadi digital. Mengurangi konsumsi kertas (paperless) istilah yang kerap muncul dalam era cyberculture. Sejak 6 tahun yang lalu dahaga saya akan wacana teratasi dengan kehadiran kindle ebook reader. Bukan berarti buku kertas ditinggalkan. Keduanya bersinergi dan melihat situasi misalnya saat mancing saya biasa membaca lewat kindle keyboard atau kindle touch. Ketika menulis atau mencari bahan untuk tulisan masih menggunakan buku fisik. Bau kertas dan suara gesekan masih menjadi momen yang selalu dirindukan. Masih kalap membeli buku saat masuk toko buku termasuk saat ada obral buku murah.

Ketika terdengar kabar bahwa minat membaca orang Indonesia berada pada peringkat 60 dunia, kita tidak perlu gusar. Semua kembali ke diri sendiri. Coba renungkan buku apa terakhir yang kita baca? Kapan terakhir membaca buku? Kapan terakhir kita menyobek plastik penutup buku baru dengan perasaan penasaran dan tidak sabar untuk segera tahu isinya?.

Akhir kata, Saya bukan pejuang atau penggiat literasi, hanya berupaya untuk mengajak semuanya mendekati dan mengakrabi sebuah buku. Membaca itu tidak susah ketika ada kata hati untuk berkata keras untuk memulai. Jika hal tersebut dilakukan dengan komitmen untuk mengembangkan kecerdasan keluarga tidak menutup kemungkinan bangsa ini bisa menyusul Finlandia yang berada diperingkat pertama dan Norwegia yang berada pada peringkat kedua dalam hal literasi. Semua berawal dari Satu Rumah Satu Rak Buku.  Selamat Hari Buku Sedunia, Salam Literasi. 

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga


Gerakan Literasi Satu Rumah Satu Rak Buku: Refleksi Hari Buku Sedunia 2019 Gerakan Literasi Satu Rumah Satu Rak Buku: Refleksi Hari Buku Sedunia 2019 Reviewed by Roikan on 9:48 PM Rating: 5

6 comments

  1. Mantap artikelnya, Mas. Bukunya juga menarik, sudah selesai bacanya jadi teringat kartun favorit Lagak Jakarta yang bukan sekedar kartun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih bro..salam literasi. riset sarjanaku tentang lagak jakarta bentar lagi tak jadi kan buku ilmiah populer.

      Delete
  2. Salam Literasi, setuju dgn gerakan satu rumah satu rak buku, ketika kehadiran buku menjadi hiburan skligus edukasi bg kluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas apresiasinya. Benar sekali semua bisa dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga sendiri. Salam literasi.

      Delete
  3. Iya ya betul.. banyak org yg sering berantem di sosmed, julid, sampe hoax2 an itu karena kurang banget baca buku. Trus juga suka kesel kalo liat warkop yg penuh sm anak muda gak pagi gak malem main hape mulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan ditiru itu anak muda. Tidak baik untuk kesehatan. Salam literasi.

      Delete